MATERI PERTEMUAN KE 5
1. Pahala Membaca Al-Qur’an
ALQURAN adalah kalam Allah SWT, mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, di tulis dalam mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir, serta membacanya adalah termasuk ibadah. Sebaik-baik manusia yang mempelajari dan mengajarkan Alquran. Sabda Nabi Muhammad ﷺ: “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang memperlajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari).
Membaca Alquran juga mendatangkan pahala. Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.” (HR. At-Tirmidzi).
Dikutip dari buku Tajwid Lengkap Asy-Syafi’i karya Abu Ya’la Kurnaedi, pahala yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud adalah: “Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: ‘Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapatkan satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf'”.
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi tersebut menunjukkan bahwa pahala yang dimaksudkan khusus untuk orang yang membaca Alquran. Adapun pahala bagi orang yang mendengarkan bacaan Alquran, maka kepastian pahalanya hanya diketahui oleh Allah Ta’ala.
Adapun bagi seseorang yang diam dan menyimak bacaan Alquran serta mengamalkan kandungannya, maka semoga dia memperoleh kebaikan yang banyak. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta).
Sementara itu, membaca Alquran memiliki sejumlah keutamaan, salah satunya yakni perniagaan yang tidak pernah merugi.
اِنَّ الَّذِيۡنَ يَتۡلُوۡنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنۡفَقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرۡجُوۡنَ تِجَارَةً لَّنۡ تَبُوۡرَۙ اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Alquran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukur” (QS. Al Fathur : 39-40).
2.Adab Membaca Al-Qur’an
1. Berwudhu.
Allah SWT sangat menyukai kebersihan. Maka dari itu, sebelum membaca Alquran, hendaknya kita dalam keadaan suci dan sudah berwudhu terlebih dulu. Anjuran untuk berwudhu sebelum menyentuh dan membaca Alquran tercantum dalam surat Al-Waqiah ayat 77-79 yang berbunyi sebagai berikut. Artinya: "Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan." (QS. Al-Waqiah: 77-79).
2. Membersihkan mulut.
Ketika berwudhu, otomatis kita akan berkumur untuk membersihkan rongga mulut. Namun, jika dirasa berwudhu kurang bersih, kita bisa bersiwak atau menyikat gigi sebelum membaca Alquran. Mulut merupakan tempat keluarnya huruf dalam Alquran. Akan lebih baik, jika kita menyebutkan dan membaca ayat-ayat suci dengan mulut yang bersih.
3. Menggunakan pakaian yang bersih.
Adab membaca Alquran selanjutnya adalah menggunakan pakaian yang bersih dan suci dari najis. Akan lebih baik apabila kita mengganti dulu pakaian yang sebelumnya sudah dipakai dengan pakaian yang bersih. Pakaian yang bersih akan menimbulkan rasa nyaman. Sehingga, saat membaca Alquran kita merasa tenang dan nyaman. Selain itu, membaca Alquran juga sama halnya dengan menghadap Allah SWT. Tentu akan lebih afdhol apabila kita menghadap Allah SWT dengan kondisi yang bersih.
4. Memilih tempat yang bersih dan menghadap kiblat.
Selain tubuh, memilih tempat yang bersih untuk membaca Alquran juga menjadi salah satu adab yang patut diketahui umat Islam. Bersihkan dulu kamar atau ruang ibadah kita sebelum kita menggunakannya untuk membaca Alquran. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk menghadap kiblat saat membaca Alquran. Sebab, sama halnya dengan salat, membaca Alquran juga merupakan ibadah yang dianjurkan untuk dikerjakan.
5. Niat Lillahi ta'ala.
Jika diri kita sudah bersih dan tempat membaca Alquran pun sudah dibersihkan, saatnya untuk membaca Alquran. Mulailah membaca Alquran dengan niat Lillahi ta'ala atau niat karena Allah SWT. Sebab, semua kebaikan yang akan kita dapatkan dari membaca Alquran semata-mata datang dari Allah SWT. Jika niat dalam hati sudah baik, niscaya kita tidak akan merasa berat untuk melakukannya.
6. Diawali dengan membaca ta'waudz dan basmallah.
Selanjutnya, kita dianjurkan untuk mengawali membaca Alquran dengan bacaan ta'awudz dan basmallah. Tujuannya, agar selama membaca Alquran, kita mendapat perlindungan dari Allah SWT. Ada pun bacaan ta'awudz dan basmallah adalah sebagai berikut.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم
"A'uudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim."
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk."
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِي
"Bismillahirrahmannirrahiim."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Memelihara tajwid
7. Adab membaca Alquran selanjutnya adalah memelihara tajwid. Artinya, bacaan Alquran harus jelas panjang-pendeknya, bunyi huruf, mengetahui kapan harus berhenti, dan kapan harus dibaca menyambung sesuai dengan ilmu tajwid. Sebab, salah membaca panjang-pendeknya dalam Alquran, dapat mengubah arti dari bacaan tersebut. Oleh sebab itu, usahakan untuk memelihara tajwid saat membaca Alquran.
8. Dibaca dengan tartil
Membaca Alquran haruslah dengan tartil. Yakni membaca dengan perlahan, sehingga terdengar jelas tajwid dan makhraj-nya. Jangan terburu-buru saat membaca Alquran. Resapi dan baca secara perlahan agar kita dapat mendapatkan ketenangan saat membacanya.
9. Bersungguh-sungguh
Saat membaca Alquran hendaknya dilakukan secara bersungguh-sungguh. Artinya, saat membaca Alquran kita harus fokus saat membacanya sambil merenungkan dan memerhatikan bacaannya. Oleh karena itu, saat membaca Alquran jangan sambil melakukan hal lain.
10. Diakhiri dengan membaca doa
Setelah selesai membaca Alquran, kita dianjurkan untuk mengakhirinya dengan membaca doa. Doa yang dibaca adalah sebagai berikut.
دق الله العظيم وبلغ رسوله الكريم ونحن على ذلك من الشاهدين
"Shadaqallahul ‘adziim wa balagha rasuuluhul kariim wa nahnu ‘alaa dzaalika minasy syaahidin."
Artinya: “Maha benar Allah Yang Maha Agung dan Rasulnya yang mulia telah menyampaikan dan kami atas hal itu termasuk orang-orang yang bersaksi.”
2. Sejarah Qira’ah Sab’ah
Al-Qur’an, salah satu syarat yang ditetapkan adalah harus disesuaikan dengan bahasa Quraisy. Di sisi lain, perbedaan-perbedaan dialek merupakan suatu sebab yang dapat melahirkan bermacam-macam qiraat (bacaan) dalam melafazkan al-Qur’an. Dengan kata lain, lahirnya bermacam-macam qiraat merupakan akibat dari beragamnya dialek. Adanya keberagaman dialek merupakan sesuatu yang bersifat alami. Artinya, fenomena tersebut tidak dapat dihindari karena setiap bangsa, suku, tetap memiliki dialek atau lahjah yang berbeda. Nabi sangat memahami keberagaman atau perbedaan-perbedaan dialek tersebut. Akibat beragamnya dialek di tanah Arab, Nabi berusaha menjaga umatnya dari berbagai kesulitan dan memberikan kemudahan untuk memahami al-Qur’an. Hal ini tercermin ketika Jibril datang membawa perintah kepada Nabi untuk membacakan al-Qur’an kepada umatnya dengan satu huruf. Nabi dengan memohon ampun kepada Allah, melalui malaikat Jibril meminta agar hurufnya ditambah. Setelah itu, hurufnya di tambah hingga tujuh huruf. Dalam beberapa hadis dijelaskan;
قال رسول الله صلى الله علیھ وسلم أقرأنى جبریل على حروف فراجمعتھ فلم أزل أستزیده و یزیدنى حتى
.احرف سبعة الى أنتھى
Rasulullah bersabda “Malaikat Jibril telah membacakan (al-Qur’an) kepadaku atas beberapa huruf. Lalu, aku berulang kali meminta kepadanya agar ditambahkan bacaan tersebut. Jibril pun menambah bacaan itu sehingga sampai tujuh huruf (macam)”. (HR. Muslim)
Dalam hadits yang lain dijelaskan pula;
عن ابي ابن كعب قال: أن النبي صلى الله علیھ وسلم كان عند أضاءة بنى غفار, قال: فأتاه جبریل فقال: ان
, فقال: أسال الله معافاتھ و مغفرتھ, وأن أمتك القران على
حرفین, فقال: أسأل الله معافاتھ ومغفرتھ وأن أمتى لاتطیق ذلك, ثم جاء الثالثة فقال: ان الله یأمرك أن تقرئ
seraya Jibril didatangi ia, Ghaffar Bani parit dekat di berada Nabi Ketika mengatakan: Allah memerintahkanmu agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf. Ia menjawab “aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya, karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu”.
فقال: ان الله یأمرك أن تقرئ أمتك القران على سبعتة, أحرف, فأیما حرف قراوا علیھ فقد أصابوز. أمتك القران على ثلاثة أحرف, فقال: أسال الله معاقاتھ ومغفرتھ, وأن أمتى لا تطیق ذلك, ثم جاء الرابعة,
Kemudian Jibril datang lagi untuk yang kedua kalinya dan berkata: Allah memerintahkanmu agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf. Nabi menjawab: aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya, umatku tidak kuat melaksanakannya. Jibril datang lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu mengatakan: Allah memerintahkan agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf. Nabi menjawab: aku memohon ampunan dan maghfirah-Nya, sebab umatku tidak dapat melaksanakannya. Kemudian Jibril datang lagi untuk yang keempat kalinya seraya berkata: Allah memerintahkan ke- padamu agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf, dengan huruf mana saja mereka baca, mereka tetap benar”. (HR. Muslim).
3. Hikmah Qira’ah Sab’ah
Bukti yang jelas tentang keterjagaan Al-Quran dari perubahan dan penyimpangan, meskipun mempunyai banyak qira'at tetapi tetap terpelihara.
Keringanan bagi umat serta kemudahan dalam membacanya.
Membuktikan kemukjizatan Al-Quran, karena dalam qira'at yang berbeda ternyata bisa memunculkan istinbat jenis hukum yang berbeda pula.
Qira'at yang satu bisa ikut menjelaskan / menafsirkan qiroat lain yang masih belum jelas maknanya
4. Sejarah Ilmu Tajwid dan Makharijul Huruf
Sejarah Ilmu Tadwid
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا
"Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)."
Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Sayyidina Ali r.a apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Qur’an secara tartil itu, maka beliau menjawab "adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.
Ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Qur’an bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad (fatwa) para ulama' yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.
Para sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini kepada generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi apa yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada Allah SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.
Apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Apabila pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mulai melakukan-kesalahan dalam bacaan.
Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf al-Qur’an dalam enam atau tujuh buah itu. beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam. Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2 Hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Qur’an. Maka al-Qur’an Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qira’at yang paling awal sepakat, yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu 'Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya "Al-Qira’at" pada kurun ke-3 Hijriah.
Akan tetapi ada yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu 'Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu Qira’at adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya "Kitabus Sab'ah", dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qira’at kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah. Kesemuanya pada masa itu karangan ilmu tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang terulung.
Selepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua ilmu ini dengan karangan-karangan mereka dari masa ke masa seperti Abu 'Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir, Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya "Hirzul Amani wa Wajhut Tahani" yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu tajwid dan ilmu qira’at senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya, penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka. Kemudian lahir pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qira’at yaitu Imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu "An-Nasyr", "Toyyibatun Nasyr" dan "Ad-Durratul Mudhiyyah" yang mengatakan ilmu qira’at adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya "Hirzul Amani" sebagai qira’at tujuh. Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu tajwid dalam kitabnya "At-Tamhid" dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama "Matan Al-Jazariah". Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya, yang kemudian menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qira’at serta bacaan al-Qur’an hingga hari ini.
Sejarah Makharijul Huruf
Ketika Al-Qur’an diturunkan, pada masa itu tidak ada kewajiban bagi umat islam untuk mempelajari ilmu tajwid karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab dan bahasa arab merupakan bahasa keseharian mereka. Jadi mereka tidak mempunyai kesulitan sama sekali dalam pelafalan huruf-huruf dalam al-Qur’an.
Akan tetapi pada saat orang-orang a’jam (orang-orang asing) mulai masuk islam, muncullah masalah baru, yakni masalah tentang pelafalan huruf. Karena ketika mereka mambaca Al-Qur’an ada beberapa huruf dan bentuk I’rab[1] yang tidak terdapat dalam bahasa mereka padahal bahasa arab dibangun dari I’rab. Apabila susunan sebuah kalimat berubah maka maknanya juga akan berubah. Dari hal ini, para sahabat pada masa khalifah ‘Ali Bin Abi Thalib – ketika banyak orang asing masuk islam – sangat memperhatikan hal ini. Kemudian khalifah ‘Ali memerintahkan Abul Aswad addu’ali[2] untuk meletakkan alamat atau tanda yang bisa menjadi patokan bagi orang-orang (ينحو الناس نحوها)dari kata ini pula kemudian muncul sebuah cabang ilmu yang disebut ilmu nahwu- yaitu agar orang-orang bersandar pada ilmu ini dalam pelafalan bahasa arab. Pada awalnya, Abul Aswad merasa ragu untuk melakukan hal ini.
Pada suatu hari, Abul Aswad addu’ali berjalan di sebuah gang sempit dan mendengar seseorang yang sedang membaca awal surat At-Taubah yang berbunyi:
أذن من الله و رسوله إلى الناس يوم الحج الأكبر أن الله بريء من المشركين و رسولُه
Pada ayat tersebut, kata yang bercetak tebal dibaca wa rasuuluh akan tetapi orang itu membaca ayat tersebut dengan wa rasuulih. Mungkin kelihatannya hanya persoalan sepele (karena hanya masalah harakat) akan tetapi, dalam bahasa arab perubahan harakat bisa mengakibatkan adanya perubahan makna dari yang awalnya bermakna “bahwsanya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kaum musyrik” berubah menjadi “Allah berlepas diri dari kaum musyrik dan Rasul-Nya” (na’udzubillah min dzalik). Setelah mendengar bacaan itu, abul aswad terkejut dan berkata “maha suci Allah, semoga Allah tidak berlepas diri dari Rasul-Nya.” lalu beliau datang kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan berkata “aku akan melaksanakan apa yang telah engkau perintahkan kepadaku”[3] kemudian Abul Aswad mulai memberikan tanda kasrah, fathah, dan dhommah pada al-Qur’an.
Setelah orang-orang a’jam masuk islam, para ulama mulai menyadari pentingnya kaidah-kaidah dalam A-Qur’an agar orang-orang tidak melakukan kesalahan. Misal, dalam al-Qur’an terdapat huruf ha (ح) seperti dalam surat Al-Fatihah yang berbunyi:
بسم الله الرحمن الرحيم
Sedangkan huruf tersebut tidak terdapat dalam bahasanya, maka sebagian orang membaca dengan mengganti ha (ح) menjadi ha (ه)
بسم الله الرهمن الرهيم
Atau menjadi kha (خ)
بسم الله الرخمن الرخيم
Padahal kedua-duanya salah dan apabila hal ini terus dibiarkan, niscaya huruf-huruf Al-Qur’an akan hilang. Dan dengan hilangnya huruf-huruf tersebut akan hilang pula makna Al-Qur’an yang telah diwahyukan oleh Allah di dalamnya. Jika diumpamakan, makna bagaikan air dan lafadz bagaikan gelas. Sebagaimana telah diketahui bahwa bentuk air akan selalu mengikuti bentuk tempat yang ditempatinya. Demikian pula lafadz, ketika kita sedang melafadzkan sebuah kata misalkan (عسى)kata ini bermakna harapan. Akan tetapi jika huruf sin dalam kalimat ini kita tebalkan, yakni (عصى) maka arti dalam kata ini sudah berubah sebagaimana pindahnya air ke tempat yang lain. Kata ini bisa berarti tongkat atau menyelisihi. Makna dua kata tersebut bisa berbeda hanya karena perbedaan antara tebal dan tipisnya pelafalan salah satu huruf saja.
Dari sinilah muncul sebuah cabang ilmu baru yang disebut ilmu makharijul huruf.
Setelah muncul ilmu tentang makharijul huruf, para ulama sadar bahwa ilmu makharijul huruf saja tidak cukup karena bisa jadi seseorang bisa melafalkan sebuah huruf sesuai dengan tempatnya tapi dia tidak bisa membedakan antara yang tebal dan yang tipis, dan lain sebagainya. Dari sini juga para ulama mulai membuat suatu cabang ilmu baru selain makharijul huruf yakni shifaatul huruf (sifat-sifat huruf).
Hikmah Ilmu Tajwid dan Makharijul Huruf
Menghindari kesalahan dan perubahan makna saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Agar dapat memelihara kemurnian bacaan Al-Qur’an melalui tata cara bacaan yang benar.
Dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.
Pembaca dapat melafalkan setiap huruf hijaiyah dengan benar.
Dapat memahami hukum-hukum bacaan dalan Al-Qur’an
Komentar
Posting Komentar