MATERI PERTEMUAN KE 6

1. Pengertian Asbabun Nuzul
Asbabun nuzul adalah suatu peristiwa atau apa saja yang menyebabkan turunnya ayat - ayat al quran, baik secara langsung maupun tidak langsunng.
Menurut az- zarqani adalah hal khusus atau sesuatu yang terjadi serta hubungan dengan turunnya ayat al quran yang berfungsi sebagai penjelas hokum pada saat suatu  peristiwa itu terjadi.
2. Segi Jumlah Sebab Dan Ayat Yang Dirurunkan Asbabun Nuzul
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang di turunkan asbabun nuzul dapat di bagi menjadi dua:
A. Ta’addud al-asbabwa an-nazil-wahid [sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok yang turun satu]
B. Ta’addud an-nazil was-sabab wahid [ ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun lebih dari satu sedangkan sebab turunnya satu]
3. Riwayat Asbabun Nuzul
Riwayat – riwayat asbabun nuzul dapat di golongkan menjadi dua:
A. Riwayat yang tegas atau pasti [mumkin], riwayat yang tegas artinya riwayat tersebut pasti menunjukkan sebab nuzul.
B. Riwayat yang tegas atau mungkin, adapun riwayat yang tidak tegas artinya ada kemungkinan sebab agai asbabun nuzul da nada kemungkinan sebagai penjelas kandungan hokum yang lain.
4. Urgensi dan Kegunaan Asbab An-Nuzul
Asbab an-nuzul mempunyai arti penting dalan menafsirkan al-qur’an. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbab an-nuzul suatu ayat. Al-Wahidi (W.468H/1075M.)seorang ulama klasik dalam bidang ini mengemukakan; “pengetahuan tentang tafsir  dan ayatayat tidak mungkin, jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan tentang peristiwa dan penjelasan dengan turunnya suatu ayat. Sementara ibnu daqiq al-id menyatakan bahwa penjelasan asbab an-nuzul Merupakan salah satu jalan yang baik dalam rangka memahami al-qur’an. Pendapat senada di ungkapkan oleh ibnu taimiyah bahwa mengetahui asbab annuzul akan menolong seorang dalam upaya memahami ayat, karena pengetahuan tentang sebab akan melahirkan pengetahuan tentang akibat.
• Dapat ditegaskan bahwa pengetahuan tentang asbab an-nuzul berfungsi antara lain:
A. Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ tehadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin dan agama. Jika dianalisa secara cermat, proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi, seperti pelanggaran minuman keras,misaalnya ayat-ayat al-qur’an turun dalam empat kali tahapan yaitu: QS. An-nahl: 67, QS. Al-baqarah: 219, QS. An-nisa’: 43 dan QS Al-Maidah: 90-91.
B. Mengetahui asbab an-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya. Urwah ibnu zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardu sa’i antara sofa dan marwa QS. Al-baqarah/2: 158:

 Artinya: “sesungguhnya sofa dan marwa adalah sebagian dari shiarshiar. Barang siapa yang beribadah haji ke baitullah ataupun umroh, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya .dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, sesungguhnya Allah maha mensyukuri kebaikan lagi maha mengetahui”. 
Apabila lafazh yang diturunkan bersifat umum dan ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya, maka adanya asbabun nuzul akan membatasi takhshish itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
Mengetahui sebab turunnya ayat adalah cara terbaik untuk memahami Al-Quran dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa pengetahuan sebab turunnya.
C. Sebab turunnya ayat dapat menerangkan tentang kepada siapa ayat itu diturunkansehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.
Faedah Mengetahui Asbabun Nuzul
Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa ilmu Asbabun Nuzul tidak ada gunanya dan tidak ada pengaruhnya karena pembahasannya hanyalah berkisar pada lapangan sejarah dan ceritera. Menurut anggapan mereka ilmu Asbabun Nuzul tidaklah akan mempermudah bagi orang yang mau berkecimpung dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an. Anggapan tersebut adalah salah dan tidaklah patut didengar karena tidak berdasarkan pendapat para ahli Al-Qur'an yang dikenal dengan ahli tafsir.
• Adapun faedah dari ilmu Asbabun Nuzul dapat disimpulkan sebagai berikut:
A. Mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hokum
B. Menentukan hukum (takhshish) dengan sebab menurut orang yang berpendapat bahwa suatu ibarat itu dinyatakan berdasarkan khususnya sebab.
C. Menghindarkan prasangka yang mengatakan arti hashr dalam suatu ayat yang zhahirnya hashr.
D. Mengetahui siapa orangnya yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan bila terdapat keragu-raguan.
Dan lain-lain yang ada hubungannya dengan faedah ilmu Asbabun Nuzul
Faedah mempelajari Asbabun Nuzul dalam bukunya Manahil al-Irfan fi Ulum al-Quran lebih global diterangkan faedah asbabul nuzul:
A. Mengetahui sebab Nuzul dapat membantu seseorang dalam memahami suatu ayat, dan dapat menghindarkan dia dari kesalah pahaman.
B. Sebab Nuzul dapat menerangkan kita kepada siapa ayat itu diturunkan, sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.
Dengan beberapa manfaat diatas semuanya merupakan manfaat besar nan penting untuk menambah ilmu serta mendukung pemahaman terhadap al-quran. Sebaliknya asbabun nuzul akan membantu seseorang mengerti makna al-quran secara tepat tanpa ada kesimpang siuran karena berdasar sebab–sebab yang turun yang disaksikan oleh sahabat nabi sehingga nuzul ayat tersebut menjadi kuat.
Contoh tentang faedah ilmu Asbabun Nuzul
Mengetahui asbaabun-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an) merupakan hal yang sangat penting, karena mengandung beberapa faedah. Diantaranya :
A. Menjelaskan bahwa Al-Qur’an benar-benar turun dari Allah ta’ala
Hal ini dapat dilihat bahwa terkadang Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam jika ditanya tentang suatu masalah, beliau terdiam dan tidak menjawab pertanyaan itu sampai turun wahyu kepadanya, atau beliau sedang menghadapi suatu permasalahan, kemudian turun wahyu kepada beliau sebagai penjelas atas hal tersebut.
Contoh Pertama :
Firman Allah ta’ala :

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Israa’ : 85).
Dalam kitab Shahih Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki dari kalangan Yahudi berkata,”Wahai Abul-Qasim – nama panggilan untuk Rasulullah – apa ruh itu?”. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diam tidak menjawab pertanyaan itu. [Dalam suatu lafadh disebutkan] : Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menahan diri dan tidak menjelaskan sesuatupun kepada mereka. Aku (Ibnu Mas’ud) tahu bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang menerima wahyu, kemudian aku berdiri di tempatku. Ketika wahyu turun beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau berkata : “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah,”Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Israa’ : 85).
B. Sebagai bukti pertolongan Allah ta’ala dan pembelaan atas Rasul-Nya
Contoh tentang hal itu tersebut dalam firman Allah ta’ala :



“Berkatalah orang-orang kafir : “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar)” (QS. Al-Furqaan : 32).

Begitu pula dengan ayat-ayat Al-Ifk (berita dusta), sesungguhnya ayat-ayat tersebut merupakan pembelaan terhadap tempat tidur (istri – yaitu ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan pensucian atas dirinya dari kebohongan para pendusta. (Baca kisah tentang masalah ini dalam QS. An-Nuur : 11-26).
Sebagai bukti pertolongan Allah ta’ala kepada hamba-Nya, dengan melapangkan kesusahan dan menghilangkan kesedihan mereka
Contoh yang berkenaan dengan hal ini terdapat dalam ayat tentang tayamum. Tersebut dalam kitab Shahih Bukhari bahwa kalung milik ‘Aisyah radliyallaahu ‘anha hilang, ketika itu ia sedang ikut dalam perjalanan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Maka, Nabi pun mencarinya. Dan orang-orang ketika itu tidak menemukan air dimana mereka kemudian mengadukan hal itu kepada Abu Bakar radliyallaahu ‘anhu. Disebutkan dalam hadits bahwa kemudian turunlah ayat tentang tayamum. Maka mereka pun melakukan tayamum. Berkata ‘Usaid bin Hudlair,”Ini bukanlah barakah kalian yang pertama kalinya wahai keluarga Abu Bakar”. Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari dengan lafadh yang panjang.
Banyaknya Ayat yang Turun dan Sebabnya Satu
Terkadang ada satu peristiwa tapi ayat yang turun banyak. Semisal hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi dan Hakim dari Ummu.
Salamah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, saya tidak mendengar Allah menyebutkan sesuatu kepada kaum wanita tentang hijrah”, maka Allah menurunkan ayat 195 dari surat Ali ‘Imrān

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”.

Diriwayatkan juga oleh Hakim dari Ummu Salamah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, laki-laki disebutkan sedang perempuan tidak di sebut”, maka turunlah surat al-Ahzab ayat 34:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim”

Contoh faedah lainnya adalah Ilmuasbab an-nuzul telah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari ilmu-ilmu al-Qur’an secara keseluruhan, dan keberadaannya sama

Komentar