MATERI PERTEMUAN KE 12 ( WORD)

 

 MAKALAH

PENDIDIKAN PEMBANGUNAN KARAKTER,

DAN PENGEMBANGAN SDM

Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ta’limul Quran

Dosen Pengampu : Ahmad Muzakkil Anam,M.Pd.I.

Di susun oleh :

 

1.      Aulia Nur Fadhilah                             (213111047)

2.      ‘Aisyah Nurul Hidayah                         (213111060)

3.      Rosiana Mahari Rosada                      ( 213111067)

 

 

 

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH UIN RADEN MAS SAID SURAKARTA

2021

 

 

 

 

 

 

 

BAB l

PENDAHULUAN

 

A.    Latar belakang

Negara Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang berkualitas sebagai pendukung utama dalam pembangunan Nasional. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting.Kegagalan pendidikan saat ini dalam membangun karakter anak bangsa  menjadikan sebagai suatu alasan untuk membincangkan mengenai pendidikan karakter. Wacana ini muncul melihat fenomena seperti sikap dan perilaku masyarakat dan bangsa Indonesia sekarang cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur yang sudah lama dijunjung tinggi dan mengakar dalam sikap dan perilaku sehari-hari, nilai-nilai karakter mulia, seperti kejujuran, kesantunan, kebersamaan, dan religius, sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh budaya asing yang cenderung hedonistik,materialistik, dan individualistic.       

 Sehingga nilai-nilai karakter tersebut tidak lagi dianggap penting jika bertentangan dengan tujuan yang ingin diperoleh, sebagai contoh konkret maraknya korupsi beserta perilaku negative lain, menyontek (tidak adanya karakter jujur), mementingkan hasil daripada proses sehingga terabaikannya karakter jujur dan taat pada aturan, tidak adanya keteladanan dan sanksi yang jelas memperkuat munculnya geng motor, toilet menjadi sarana vandalisme karena ketiadaan karakter peduli sosial dan lingkungan, karakter tidak disiplin, karakter cinta tanah air memerlukan keteladanaan dari para pemimpin di sekolah, masyarakat dan negara.

Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan.
Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa,
pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam
meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia, dalam prosesnya sendiri fitrah yang alamiah ini sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memilki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku.                                                    

Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan dan masyarakat harus memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk.Para pemimpin dan tokoh masyarakat juga harus mampu memberikan suri teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut.

             

 

 

 

 

 

 

 

B.  Rumusan Masalah

a)      Bagaimana pandangan Islam terhadap manusia dan sifat-sifat nya?

b)      Apa saja term manusia dalam Al-Quran?

c)      Bagaimana cara mengetahui karakter bangsa Qurani?

d)     Apa yang dimaksud pendidikan Qurani dan faktor-faktornya?

e)      Tujuan pembentukan karakter?

f)       Bagaimana potensi manusia?

g)      Apa pentingnya pendidikan anak usia dini?

 

C. Tujuan Pembahasan

a)      Untuk mengetahui manusia dan sifat-sifat nya

b)      Untuk mengetahui term manusia dalam Al-Qur'an

c)      Untuk mengetahui karakter bangsa Qurani

d)     Untuk mengetahui pendidikan Qurani dan faktor-faktornya

e)      Untuk mengetahui pembentukan karakter

f)       Untuk mengetahui potensi manusia

g)      Untuk mengetahui pentingnya pendidikan anak usia dini

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 BAB Il

                                                 PEMBAHASAN

 

A.     MANUSIA DAN SIFAT-SIFATNYA

Dalam pandangan Islam, manusia merupakan entitas yang unik. Keunikannya terletak pada wujudnya yang multidimensi, bahkan awal penciptaannya didialogkan langsung oleh Allah  dengan para malaikat sehingga jadilah manusia makhluk Allah yang paling mulia dan sempurna di muka bumi ini. Di antara keisti ini mewaan-keistimewaannya adalah diangkatnya manusia sebagai khalifah di bumi al-Baqarah/2: 30-34.Manusia merupakan makhluk berfikir yang menggunakan bahasa sebagai medianya (animal simbolicum); manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan untuk bersosial sehingga dapat mengembangkan peradaban (zoon politikon); manusia merupakan makhluk yang cenderung beragama (homo relegiosus); manusia juga mempunyai keluwesan sifat yang selalu berubah melalui interaksi pendidikan ( animal educandum).

Namun demikian, manusia sebagai makhluk justru lebih sulit memahami dirinya sendiri daripada memahami makhlu lain seperti hewan dengan berbagai jenisnya. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dari ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia kepada diri mereka hingga kini masih tetap tanpa jawaban.

Kesulitan memahami manusia ini dikarenakan adanya keterlambatan manusia sendiri dalam memahami dirinya, ketika manusia pada awalnya lebih dulu dan lebih suka menyelidiki alam materi ketimbang dirinya sendiri. Keterlambatan ini juga dikarenakan akal manusia memang lebih cenderung memikirkan sesuatu yang tidak kompleks; dan yang pasti, kompleksitas manusia itu sendiri-yang terdiri dari jasad dan roh, sisi luardan sisi dalam-membuat pengertian tentang manusia masih menjadi misteri dan kajian tentangnya terus dilakukan tanpa henti. Inilah agaknya yang menjadi salah satu isyarat dari firmn Allah subhanahu wa ta’ala tentang keterbatasan akal manusiia dalam memmahami substansi kehidupan manusia, yakni tentang kuiditas (mahiyah) roh , sebagaimana firman- Nya:

 

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

 

"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah , “Roh itu termasu urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit". (al-Isra’ /17: 85)

 

 

 

 

B.     TERM MANUSIA DALAM AL-QUR'AN

Jika kita membatasi pengertian manusia dalam perspektif Al-Qur’an yang menjadi kajian tulisan ini, term yang digunakan untuk menunjukkan arti manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pertaa, kelompok yang menggunakan term basyar, kedu, kelompok yang menggunakan term insane; dan ketiga, kelompok yang menggunakan term ban Adam. Tulisan ini akan berusaha meneliti term-term tersebut untuk mengetahui karakteristik setiap term dan kaitannya antara satu dengan yang lain. Term-term tersebut antara lain:

1.       Term basyar

Term basyar secara leksikal mempunyai arti fisik manusia. Makna ini diabstraksikan dari berbagai uraian tentang makna basyar itu sendiri. Misalnya, al-Asfahani yang menyatakan bahwa term basyar digunakan untuk seseorang yang kulitnya nampak jelas. M. Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia disebut basyar karena kulitnya Nampak dengan jelas dan berbeda dengan kulit binatang yang ditutupi bulu-bulu. Secara lebih luas, Ibnu manzur menyebutkan bahwaterm basyar digunakan untuk menyebut manusia laki-lalki atau perempuan, baik satu atau banyak. Menurutnya, term ini terambil dari kata basyarah yang berarti permukaan kulit kepala, wajah, dan tubuh yang  menjadi tempat tumbuhnya rambut. Dalam Al-Qur’an, term basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk dual (tasniyah), term basyar dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok arti pemakaian:

a.       1 kali digunakan untuk menyebutkan bagian lahir manusia/ kulit manusia (al-Muddassir/74:29).

b.      23 kali digunakan untuk menyebutkan manusia dalam kaitannya dengan kenabian (al-Anbiya’/21: 3, Ali ‘Imran/3: 79, al-Ma’idah/5: 18, al-An’am/6:91, Ibrahim/14: 10 dan 11, al-Kahf /18: 110, al-Mu’minun/23: 24, 33, dan 34, asy-Syu’ara’/26: 154 dan 186, Yasin/ 36: 15, Fussilat/41: 6, asy-Syura/42: 51, at-Tagabun/64: 6, al-Muddassir/74: 25, Hud/11: 27, Yusuf/12: 31, al-Isra’/17: 93 dan 94, dan al-Qamar/54:24). 11 ayat diantaranya menyatakan bahwa seorang nabi adalah basyar, yakni seperti manusia pada umumnya yang secara lahiriah memiliki cirri yang sama, yaitu makan dan minum. 2 kali digunakan dalam kaitannya dengan persentuhan laki-laki dengan perempuan karena secara biologis manusia membutuhkan hubungan seksual untuk mengembangkan keturunan dalam surat Ali ‘Imran/3: 47

قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌ ۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۗاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

 

 

dan Maryam/19: 20

قَالَ اِنَّمَآ اَنَا۠ رَسُوْلُ رَبِّكِۖ لِاَهَبَ لَكِ غُلٰمًا زَكِيًّا

Kedua ayat tersebut membicarajkan tentang masalah Nabi Isa dari ibunya, Maryam, yang tidak pernah disentuh oleh manusia. Ada pula yang mengaartikan dengan tidak mempunyai suami dan kalimat tersebut adalah metafora dari bersetubuh.

c.       4 kali digunakan dalam pengertian sosok manausia pada umumnya (Maryam/19:17 dan 26, al- Muddassir/74: 25 dan 36). Keempat term basyar di atas menunjukkan bahwa basyar memiliki arti manusia pada umumnya. Misalnya, pada Surah al-Muddassir/74: 36 diartikan dengan memberikan peringatan kepada manusia. Mujahid, Qatadah, dan lainnya mengartikan kata basyar pada Surah Maryam/19: 17 ‘bentuk manusia yang lengkap dan sempurna (surah insan kamiltamm)

d.      4 kali digunakan dalam kaitannya dengan penjelasan tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia yang bermula dari tanah (Sad /38: 71, al-Furqan/25: 54, ar-rum/30: 20, dan al-Hijr/25: 28). Keempat ayat tersebut menyatakan bahwa basyar adalah manusia yang diciptakan dari substansi dasa campuran tanah dan air (salsal, tin, ma’, turab). Keempat substansi dasar itu adalah bentuk dasar manusia yang bermula dari fase tanah (marhalah turabiyah) sampai fase penyempurnaan ( marhalah taswiyah) dengan ditiupkan ruh ilahiyyah ke dalam dirinya, sebagaimana firman Allah dalam surah Sad/38: 71-72 yang artinya: (Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Sad /38: 71-72)

e.       1 kali menjelaskan bahwa basyar, manusia, akan mengalami kematian.

Sebagaimana firman Allah dalam surah al- Anbiya’/21: 34-35)

 

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ (34) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (35

 

          Dari ayat-ayat yang menggunakan term basyar  di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan kata ini di dalam Al-Qur’an memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan manusia adalah yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan mereka saling bertemu atas dasr persamaan. Al-Qur’an juga menggambarkan basyar sebagai manusia dilihat dari segi biologis dan fisiknya berupa makan, minum, berhubungan seks, dan lain sebagainya.   

         AI-Qur’an merupakan pedoman dan tuntutan hidup umat Islam, baik sebagai individu maupun sebagai umat.  Ayat pertamanya diwahyukan ketika Nabi sedang berkhalwat di Gua Hira’ di gunung cahaya (jabal al-nur) dekat Mekkah, dan ayat terakhir diturunkan hanya beberapa waktu sebelum wafatnya. Ayat-ayat itu di hafal oleh banyak sahabat dan secara lambat laun mulai dituliskan oleh sahabat-sahabat seperti ‘Ali dan Zaid.

2.      Term insan dan derivasinya

          Term insan yang merupakan bentuk tunggal dari An-Nas ghalibnya dikelompokkan pada kata-kata yang mengandung pengertian maskulin(mu'annas), menurut Ibnu Manzur,term insan mempunyai tiga asal kata: 1. Berasal dari kata anasa yang artinya melihat,mengetahui,dan meminta izin. 2. Berasal dari kata nasiya yang artinya lupa. 3. Berasal dari kata al-uns yang berarti jinak.

Penggunaan kata insan dalam Al-Quran bahwa manusia memang memiliki keluwesan sifat yang selalu berubah melalui interaksi pendidikan hal ini disebabkan karena salah satunya adalah untuk menyatakan bahwa manusia adalah bayawan natiq yang dapat menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Dalam Q.S Al-Alaq ayat 5

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

 

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".

3.       Term Bani Adam

          Yang di maksud adalah anak cucu keturunan  nabi Adam. Bentuk dasar Bani adalah Banun atau Banin,tetapi karena berada posisi mudaf maka huruf wae/ya' dan nun pada kata Banun harus dihilangkan,sehingga menjadi Banun/Bani. Dalam Alquran istilah Bani Adam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 surat salah satunya keharusan manusia untuk memakai pakaian yang berguna untuk memperindah tubuh dan menutup aurat pada surat Al a'raf ayat 26

يَا بَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْاٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ

 

26. "Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat".

 

C.    KARAKTER BANGSA QUR'ANI

 Karakter bangsa yang qur’ani dilahirkan dari pendidikan yang berkarakter qur’ani pula. Oleh sebab itu, negara harus memberikan ruang gerak pendidikan agama lebih luas dalam undang-undang dan kurikulum nasional.    

 Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme oleh filsuf Prancis Auguste Comte. Foerster menolak gagasan yang merendahkan pengalaman manusia pada bentuk murni hidup alamiah.  Pedoman nilai merupakan kriteria yang menentukan kualitas tindakan manusia di dunia. Dinamika pemahaman pendidikan karakter berproses melalui tiga momen, yaitu historis, reflektif, dan praktis. Momen historis yaitu usaha merefleksikan pengalaman umat manusia yang bergulat dalam menghidupi konsep dan praksis pendidikan khususnya dalam jatuh bangun mengembangkan pendidikan karakter bagi anak didik sesuai dengan konteks zamannya. Momen reflektif, yaitu sebuah momen yang melalui pemahaman intelektualnya.

    Jika dilihat dari paradigma Islam maka pendidikan karakter sebenarnya adalah bagian dari  pendidikan akhlaq akan tetapi ia begitu booming seolah mengalahkan ketenaran pendidikan akhlaq itu sendiri saat ini. Oleh sebab itu Islam menawarkan solusi untuk keseimbangan kehidupan itu melalui sumber utama yang sempurna yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw, sebab Islam telah membuktikan akan kecermerlangan ‘Madinah al-Munawwarah’ dengan al-Qur’an dan Sunnah sebagai parameter negara. Oleh sebab itu pendidikan karakter mesti harus berlandas pada sumber tersebut sehingga bermunculanlah ‘Manusia-manusia Qur’ani’ yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan zaman tanpa menanggalkan identitas ketauhidannya.

      Pendidikan diambil dari kata ‘didik’ yang dibubuhi dengan awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’ yang berarti ‘memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran’, sementara pendidikan yaitu ‘proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik

 

D.    PENDIDIKAN QUR'ANI

             Pendidikan Qur’ani adalah pendidikan Islam sebab sama-sama bersumber dari al-Qur’an. pendidikan karakter Qur’ani adalah ‘usaha atau bimbingan yang dilakukan oleh orangtua, guru atau orang dewasa untuk  membangkitkan sifat-sifat kebaikan yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw dengan menyeimbangkan antara ilmu, iman, akhlaq dan amal dalam kepribadian anak yang diperuntukkan untuk kemaslahan kehidupan manusia”.

             Faktor yang sangat mempengaruhi karakter manusia dapat dilihat dari faktor yang bersifat primer dan sekunder, yaitu: Faktor Primer (Utama). Faktor utama dalam membentuk karakter manusia adalah keimanan.  Keimanan adalah kepercayaan yang kokoh kepada Allah. Faktor Sekunder (Faktor Tidak Utama). Faktor sekunder adalah faktor kedua dalam mempengaruhi karakter manusia atau bisa disebut sebagai faktor yang tidak utama. Adapun faktor yang bersifat sekunder dalam mempengaruhi karakter manusia yaitu politik, sosial, budaya, pendidikan, kepercayaan dan hal-hal selain faktor primer. Faktor keimanan (iman) adalah faktor fundamental dalam mempengaruhi karakter seorang manusia sebab keimanan bersumber dari ruh al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai sumber kebaikan yang datang dari Allah. Akan tetapi sumber kebaikan tersebut mesti harus ditempa (diajarkan) sejak dini melalui kombinasi lembaga informal, formal, non formal dan masyarakat sebab lembaga-lembaga tersebut adalah mesin  pembentuk karakter seorang anak manusia.

 

E.      MESIN PEMBENTUK KARAKTR

Masyarakat adalah mesin ketiga dalam membentuk jiwa seorang anak manusia. Oleh karena itu mesin-mesin pembentuk karakter anak manusia ini mesti harus sehat, tidak rusak dan bersih sebab ia akan dipertanggungjawabkan  kepada Allah kelak. Letak fungsi dari pendidikan karakter Qur’ani dimana mengantarkan orangtua, guru atau dosen dan masyarakat untuk berkarakter Qur’ani dan sadar tanggung jawabnya terhadap perkembangan karakter anak berkenaan dengan keterampilan (olah otak) dan qalbu (spiritual). Sebagaimana dalam firman Allah QS. At-Tahrim:6.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

 

            "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan"

             Tujuan pendidikan karakter Qur’ani adalah untuk menghasilkan anak didik yang berkarakter Qur’ani. Untuk menjadikan manusia yang berkarakter maka anak didik mau tidak mau harus diarahkan sejak dini untuk memahami al-Qur’an dengan mentadabburinya; membaca, mengkaji, mengamalkan dan mengajarkannya serta usaha untuk menjadikan anak didik sebagai manusia yang berkarakter Qur’ani dengan hasil yang ingin dicapai adalah anak didik yang beradab yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan zaman tanpa harus melepaskan identitas ketauhidannya. Sebagaimana Sabda Rasul:  “Mendidik mereka menjadi beradab” (HR. Abu Dawud).  

 

F.      POTENSI MANUSIA

Manusia adalah makhluk yang berpotensi untuk dididik secara baik dan berkelanjutan. Ia memiliki tubuh yang sempurna, memiliki berbagai potensi yang siap diaktualisasikan dalam kehidupan seperti potensi intelektual, potensi sosial, potensi
moral, dsb. yang diperlukan dalam mengarungi dan mengembangkan kehidupan di dunia ini. Hal ini sudah tampak sejak
manusia diciptakan pertama kali, Pada awal kehidupannya manusia lahir tanpa pengetahuan apa-apa lalu dengan melalui indera (interaksi dengan lingkungan) sedikit demi sedikit transformasi pengetahuan berlangsung. Allah menjelaskan hal ini dalam Surah an-Nahl ayat 78:       

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur".

             Ditangkap oleh indra, khususnya pendengaran (as-sam„) dan penglihatan (al-abār), dipahami dan dicamkan pula oleh hati nurani1 merupakan hasil belajar yang didapat manusia dalam kehidupannya. Sebagai modal awal manusia diberi insting (garīzah) oleh Allah untuk mengawali kehidupannya di alam yang sama sekali berbeda dengan alam rahim yang gelap gulita tanpa kesadaran personal. Insting adalah kemampuan yang dapat dilakukan tanpa harus melalui proses pembelajaran, seperti menangis ketika lahir, menyusu, tertawa, dan sebagainya.           

             Interaksi dengan lingkungan melalui instrumen panca indera dan mekanisme internal dalam diri manusia melahirkan pengalaman dan pengetahuan baru yang secara terus menerus terasosiasi dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah
ada. Pada tataran ini peran lingkungan begitu penting dalam
membentuk pengalaman dan pengetahuan yang kelak boleh jadi mengkristal sebagai sikap hidup. Wajar apabila Rasulullah mengingatkan kita betapa pentingnya peran lingkungan dalam membentuk kepribadian seorang anak manusia di awal kehidupannya, yang direpresentasikan oleh kedua orang tua, sebagaimana sabdanya berikut ini:


مَا مِنْ مَوْ لُودٍ إلا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوِّ دَانِهِ أوْ يُنَصِّرَانِهِ أوْ يُنَصِّرَ انِهِ أوْ يُمَجِّسَا نِهِ كَمَا تُنْتَجُ  اْلْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّو نَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ ُ

"Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang membawa nya menjadi Yahudi, Nasrani, dan majusi sebagaimana halnya hewan melahirkan hewan pula.adakah anda melihat sesuatu yang cacat padanya?"  (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari abu Hurairah)

       Dalam ajaran Islam yang bersumber al-Quran pendidikan anak Usia Dini dimulai dari bayi. Ketika bayi bayi baru saja dilahirkan maka Islam memberikan syariat untuk melantunkan azan pada telinga kanannya, dan iqomat pada telinga kirinya, dalam sebuah hadist dari Abu Dawud, dan At-Tirmizi dari sanad Abu Rifai disebutkan, “Aku pernah melihat Rasulullah melafalkan Azan di telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah, al-baihaqi dan Ibnu Sunni juga meriwayatkan dari Hasan bin Ali, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa dikaruniai seorang anak, lalu ia melafalkan azan di telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya, maka anak itu tidak akan di gangu oleh setan (HR, Ibnu Sunni dari Hasan Bin Ali bin Abi Thalib, secara marfu’).

 

 

G.    PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Ajaran ini memang memiliki beberapa tujuan yang penting antara lain adalah untuk pertama, memperkenalkan sejak dini kata-kata kebesaran Allah dan keagungan Allah kepada anak-anak yang baru lahir di dunia. Dengan memberikan suara azan yang di dalamnya ada lafadz Tauhid dan ke-Esaan Tuhan adalah bentuk pondasi awal tentang bagaimana mengajarkan Tauhid kepada anak-anak kita. Dan ini adalah cara Islam memberikan ajaran sejak dini kepada kita untuk anak-anak kita, dan kita tahu betapa besar pengaruh kata-kata azan dalam kehidupan anak-anak Usia Dini. (Tematik, 2015).

            Kalau dilihat secara psikologis melafalkan azan pada telinga kanan bayi akan menimbulkan akibat berupa upaya preventif bagi setan untuk mengoda anak manusia yang baru saja lahir. Dengan mendengar azan setan akan marah dan membuat efek dia kehilangan kekuatan untuk melakukan mendekati atau berbisik yang jahat kepada si bayi (Huzaimah, 2005).

            Mengajarkan hal-hal baik sejak dini kepada anak-anak adalah sebuah upaya yang baik karena manusia berdasarkan firman Allah dalam surat Az-Zhariyyat menyatakan diciptakannya Umat manusia adalah untuk menyembah kepada Allah. Al-Qur’an juga melarang kepada umat Islam yang mencederai anak-anak yang di karuniakan kepada mereka (Huzaimah, 2005). Hal ini mendapat ancaman serius dari Allah dalam surat al-An’am ayat 140 yang Artinya:

قَدْ خَسِرَ الَّذِيْنَ قَتَلُوْٓا اَوْلَادَهُمْ سَفَهًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّحَرَّمُوْا مَا رَزَقَهُمُ اللّٰهُ افْتِرَاۤءً عَلَى اللّٰهِ ۗقَدْ ضَلُّوْا وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.

 

 

BAB III

         Kesimpulan

       Pendidikan karakter merupakan nilai yang diperlukan dalam mewujudkan kelangsungan hidup bangsa, yang nantinya menjadi pijakan anak Indonesia sehingga berkembang menjadi pribadi yang berkualitas, memilili akhlak yang baik, jujur, tanggung jawab, hormat dan disiplin.

        Membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik dan  usaha luar yang terarah kepada tujuan tertentu guna membimbing faktor- faktor pembawaan hingga terwujud dalam suatu aktifitas rohani atau jasmani. Mengoptimalkan muatan-muatan karakter yang baik dan positif (baik sifat, sikap, dan perilaku budi luhur, akhlak mulia) yang menjadi pegangan kuat dan modal dasar pengembangan individu dan bangsa nantinya.

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://uin-suska.ac.id/2019/03/25/membangun-pendidikan-karakter-bangsa-menurut-al-quran/ ( Terbit di Riau Pos Edisi Senin, 25 Maret 2019)

Lajnah pentashihan mushaf al quran kemenag RI tafsir tematik: pembangunan generasi muda, Jakarta: LPMQ Kemenag RI,2011

Lajnah pentashihan mushaf al quran kemenag RI pendidikan pembangunan karakter,dan pengembangan SDM, Jakarta:LPMQ Kemenag RI,2010

Departemen Agama RI , Al-Qur'an dan terjemahannya,CV. Nala Dana,2007.

Ndraha, taliziduhu (1999),pengantar teori pengembangan sumber daya manusia, Jakarta: PT. Rineka Cipta

https://www.researchgate.net/publication/342742315_Tafsir_Tematik_KEMENAG_Studi_Al-Quran_dan_Pendidikan_Anak_Usia_Dini

Lahjnah pentashihan mushaf Al-Qur'an badan litbang dan Diklat kementrian Agama RI, tafsir Al-Qur'an Tematik Kamil Pustaka, 2004

Departemen Agama RI , Al-Qur'an dan terjemahannya,CV. Nala Dana,2007.

Komentar